TRIKOMONIASIS (Diagnosis dan Penatalaksanaan)


TRIKOMONIASIS, Diagnosis dan Pelaksanaanya
Definisi

Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat akut atau kronis dan merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.
Parasit ini paling sering menyerang wanita, namun pria dapat terinfeksi dan menularkan ke pasangannya lewat kontak seksual. Vagina merupakan tempat infeksi paling sering pada wanita, sedangkan uretra (saluran kemih) merupakan tempat infeksi paling sering pada pria.
Klasifikasi :
Class: Flagellata
Family: Trichomonadidae
Genus: Trichomonas
Speciees:
• Trichomonas vaginalis
• Trichomonas hominis (Hidup di kolon)
• Trichomonas tenax (hidup di rongga mulut)
Sejarah dan Penyebaran :
Spesies parasit ini ditemukan pertama kali oleh Donne 1836 pada sekresi purulen dari vagina wanita dan sekresi traktus urogenital pria. Pada tahun 1837, protozoa ini dinamakan Trichomonas vaginalis. Parasit ini bersifat cosmopolitan ditemukan pada saluran reproduksi pria dan wanita. Penyebab terjadinya keputihan pada wanita. Biasa disebut leukorrhoe atau flour albus.
Morfologi :
• Berbentuk flagelata filiformis, tidak berwarna.
• Tidak mempunyai bentuk kista. Bentuk trofozoid berukuran 7 – 25 mikron
• Mempunyai 4 flagel anterior dan 1 flagel posterior yg melekat pada tepi membrane yang bergelombang.
• Parasit hidup di mukosa vagina dengan makan bakteri, sel-sel vagina dan leukosit.
• Habitat
Wanita : vagina, uretra
Pria : uretra, epididimis, prostat
• Diluar habitatnya parasit mati pada suhu 500C, tetapi dapat hidup selama 5 hari pada suhu 00C.
• Sitoplasmanya bergranula dimana granula tersebut pada umumnya terletak di sekitar custa dan axostyle
• Sitostoma tidak ada
• Berkembang biak dengan longitudinal binary fission.
• T. vaginalis bergerak dengan cepat berputar – putar di antara sel epitel dan leukosit dengan menggerakkan flagel anterior dan membrane gelombang.
• Trichomonas Vaginalis hanya dapat hidup pada pH > 5,5 – 7,5. Pada biakan parasit mati pada pH < 4,9. Ini sebabnya parasit tidak dapat hidup di secret vagina yang asam (pH 3,8 – 4,4).
• Infeksi terjadi secara langsung waktu bersetubuh melalui bentuk Trofozoid.
Faktor Predisposisi
a. pH lingkungan 4,9-7,5, seperti pada kondisi:
• haid
• hamil
• Pencucian vagina
Antibiotik kontrasepsi, hubungan seksual, stres dan hormon dapat merubah lingkungan vagina tersebut dan memacu pertumbuhan bakteri patogen.
b. Aktivitas seksual tinggi dan bergonta – ganti pasangan.
c. Wanita lebih banyak dari pria. Wanita setelah menopause
d. Sanitasi buruk
Tanda dan Gejala
1. Pada wanita, yang diserang terutama dinding vagina.
2. Pada kasus akut terlihat :
a. Disini cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental, berbusa, dan berbau. Trichomonas vaginalis menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bacterial.
b. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab (Strawberry Appearance)
c. Perdarahan kecil – kecil pada permukaan serviks.
d. Didapatkan rasa gatal dan panas di vagina.
e. Dysuria
f. Rasa sakit sewaktu berhubungan seksual (dispareunia) mungkin juga merupakan keluhan utama yang dirasakan penderita dengan trikomoniasis.
g. Dapat juga mengalami perdarahan pasca sanggama dan nyeri perut bagian bawah.
h. Bila sekret banyak yang keluar, dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar bibir vagina.
3. Pada kasus yang kronis, gejala lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.
4. Pada pria biasanya tidak memberikan gejala. Kalaupun ada, pada umumnya gejala lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Gejalanya antara lain :
a. iritasi di dalam penis
b. keluar cairan keruh namun tidak banyak
c. rasa panas dan nyeri setelah berkemih atau setelah ejakulasi.
Fisiologi :
Vagina memiliki mekanisme perlindungan terhadap infeksi. Kelenjar pada vagina dan serviks / leher rahim menghasilkan sekret yang berfungsi sebagai sistem perlindungan alami dan sebagai lubrikan mengurangi gesekan dinding vagina saat berjalan & saat berhubungan seksual. Jumlah sekret yang dihasilkan tergantung dari masing-masing wanita. Dalam keadaan normal, kadang jumlah sekret dapat meningkat seperti saat menjelang ovulasi, stres emosional dan saat terangsang secara seksual. Selain itu, terdapat flora normal basil doderlein yang berfungsi dalam keseimbangan ekosistem pada vagina sekaligus membuat lingkungan bersifat asam (pH 3.8-4.5) sehingga memiliki daya proteksi yang kuat terhadap infeksi.
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang dinamis antara Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina dan hasil metabolit lain. Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap bakteri pathogen. Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, lactobacillus (Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain.
Patogenesis
Dasar Kelainan: Infiltrasi sejumlah besar trofozoit trichomonas vaginalis sehingga dapat merusak epitel vagina secara kontak langsung dan oleh daya toksisitasnya.
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan progesterone menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari Trichomonas vaginalis. T. vaginalis menginfeksi sel epitel vagina sehingga terjadi proses kematian sel pejamu (host-cell death). Komponen yang berperan dalam proses kematian sel ter¬se¬but adalah mikrofilamen dari T. vagina¬lis. Selama proses invasi, T.vaginalis ti¬dak hanya merusak sel epitel namun eri¬trosit. Eritrosit mengandung kolesterol esensial dan asam lemak yang diperlu¬kan bagi pembentukan membran tricho¬mo¬nad. Baik sel epitel maupun eritrosit juga merupakan sumber zat besi.
Proses pengikatan dan pengenalan trichomonad dengan sel epitel pejamu melibatkan minimal 4 protein permukaan spesifik T.vaginalis, yang dikenal dengan sistein proteinase. Setelah proses peng¬ikat¬an, akan timbul reaksi kaskade yang meng¬akibatkan sitotoksisitas dan hemolisis pada sel. Lalu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan sub epitel . Masa tunas rata- rata 4 hari – 3 minggu . Pada kasus yang lanjut terdapat bagian – bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di lapisan sub epitel yang menjalar sampai ke permukaan epitel. Didalam vagina dan uretra parasit hidup di sisa-sisa sel ,kuman-kuman,dan benda- benda lain yang terdapat dalam sekret.
Diagnosis Banding
Ada beberapa penyakit yang menggambarkan keadaan klinik yang mirip dengan trikomoniasis, antara lain :
1. Trikomoniasis
Trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis. Biasanya penyakit ini tidak bergejala tapi pada beberapa keadaan trikomoniasis akan menunjukkan gejala. Terdapat duh tubuh vagina berwarna kuning kehijauan, berbusa dan berbau. Eritem dan edem pada vulva, juga vagina dan serviks pada beberapa perempuan. Serta pruritos, disuria, dan dispareunia. Pemeriksaan apusan vagina Trikomoniasis sering sangat menyerupai penampakan pemeriksaan apusan bakterial vaginosis. Tapi Mobilincus dan clue cell tidak pernah ditemukan pada Trikomoniasis. Pemeriksaan mikroskopoik tampak peningkatan sel polimorfonuklear dan dengan pemeriksaan preparat basah ditemukan protozoa untuk diagnosis. Whiff test dapat positif pada trikomoniasis dan pH vagina 5 pada trikomoniasis.
 Klinis : Terdapat flour albus yang banyak dengan warna putih kehijauan-hijauan, berbau lumut serta berbuih, gatal pada vagina kadang-kadang sampai ke paha, dinding vagina terdapat banyak ulkus, edematous, dan eritem
2. Kandidiasis
Kandidiasis merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans atau kadang Candida yang lain. Gejala yang awalnya muncul pada kandidiasis adalah pruritus akut dan keputihan. Keputihan seringkali tidak ada dan hanya sedikit. Kadang dijumpai gambaran khas berupa vaginal thrush yaitu bercak putih yang terdiri dari gumpalan jamur, jaringan nekrosis epitel yang menempel pada vagina. Dapat juga disertai rasa sakit pada vagina iritasi, rasa panas dan sakit saat berkemih. Pada pemeriksaan mikroskopik, sekret vagina ditambah KOH 10% berguna untuk mendeteksi hifa dan spora Candida. Keluhan yang paling sering pada kandidiasis adalah gatal dan iritasi vagina. Sekret vagina biasanya putih dan tebal, tanpa bau dan pH normal.
 Klinis : discharge banyak, berwarna putih, kental seperti susu pecah, kadang berbau ,kadang tidak berbau, pada vulva dan vagina terdapat tanda-tanda radang disertai maserasi, pseudomembran, fisura, lesi satelit papulopustular. Labia mayor tampak bengkak, merah dan ditutupi oleh lapisan putih yang menunjukkan maserasi.
3. Bakterial Vaginosis
Kriteria klinis untuk bakterial vaginosis yang sering disebut sebagai kriteria Amsel (1983) yang berpendapat bahwa terdapat tiga dari empat gejala, yaitu :
a. Adanya sekret vagina yang homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina dan abnormal
b. pH vagina > 4,5 (dites dengan nitrazine paper).
c. Tes amin yang positif, yangmana sekret vagina yang berbau amis sebelum atau setelah penambahan KOH 10% (Whiff test).
d. Adanya clue cells pada sediaan basah (sedikitnya 20 dari seluruh epitel). Clue cells merupakan sel epitel vagina granular yang diliputi oleh ko¬ko¬ba¬sil sehingga batas sel tidak jelas.
e. Ditemukannya G. va¬gi¬nalis sebagai flora vagina utama menggantikan laktobasilus
 Klinis : Cairan vagina homogen, putih keabu-abuan, melekat pada dinding vagina, sekret berbau amis, tidak ditemukan adanya peradangan pada vagina dan vulva.
Diagnosis
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan Fisik
 Pemeriksaan Spekulum
Pemeriksaan spekulum untuk menginspeksi vagina dan serviks secara langsung. Ada beberapa macam, speculum metal cusco, atau bivalve adalah yang paling popular. Speculum ini terdiri dari dua daun yang dimasukkan dalam keadaan tertutup, dan kemudian dibuka dengan menekan pegangannya. 2 macam speculum dua daun yaitu :
1. Graves (speculum cocor bebek), speculum yang lebih umum digunakan. Daun – daunnya lebih lebar dan melengkung pada sisinya.
2. Pedersen, mempunyai daun yang lebih sempit dan rata, dipakai untuk wanita dengan introitus kecil.
Teknik Penggunaan :
1. pasien dibaringkan dalam posisi litotomi
2. cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir
3. keringkan tangan dengan handuk bersih
4. gunakan sarung tangan dengan benar
5. bersihkan vulva dan perineum dengan kasa kering
6. ambil spekulum cocor bebek (sesuaikan dengan ukuran yang dibutuhkan) dengan tangan kanan dan masukkan ke dalam introitus vagina dengan posisi lebar spekulum pada sumbu vertikal (anteroposterior)
7. Pemeriksa menggunakan jari telunjuk dan tengah kiri untuk memisahkan labia dan menekan perineum, speculum yang masih tertutup, dengan dipegang oleh tangan kanan pemeriksa dimasukkan secara miring dengan perlahan-lahan kr dalam introitus diatas jari-jari tangan kiri. Speculum tidak boleh di masukkan secara vertical, karena dapat timbul sedera pada uretra/meatus.
8. Spekulum dimasukkan sejauh mungkin kedalam vagina,kalau sudah masuk dengan lengkap, speculum diputar ke posisi transversal, dengan peganganya sekarang mengarah ke bawah, dan dibuka secara perlahan-lahan.
9. Dinding vagina dan serviks dapat divisualisasikan adanya :
a. secret, eritema, erosi, ulserasi, leukoplakia, atau massa.
b. Apa bentuk orifisium externum servisis?
c. Apa warna serviks?
c. Pemeriksaan Laboratorium
Dasar pemeriksaan adalah menyingkirkan kemungkinan lain.
Pemeriksaan Penunjang :
 pH vagina
Menentukan pH vagina dengan mengambil apusan yang berisi sekret vagina pada kertas pH dengan range 3,5 –5,5. pH yang lebih dari 4,5 dapat disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dan bacterial vaginosis.
 Apusan basah/Wet mount
Apusan basah dapat digunakan untuk identifikasi dari flagel, pergerakan dan bentuk teardrop dari protozoa dan untuk identifikasi sel. Tingkat sensitivitasnya 40–60 %, tingkat spesifiknya mendekati 100% jika dilakukan dengan segera.
 Pap Smear
Tingkat sensitivitasnya 40 – 60 %. Spesifikasinya mendekati 95–99%.
 Test Whiff
Tes ini digunakan untuk menunjukkan adanya amina-amina dengan menambahkan Potassium hidroksid ke sampel yang diambil dari vagina dan untuk mengetahui bau yang tidak sedap.
 Kultur
Dari penelitian Walner – Hanssen dkk, dari insiden Trikomoniasis dapat deteksi dengan kultur dan tidak dapat dideteksi dengan Pap Smear atau apusan basah.Kebanyakan dokter tidak mengadakan kultur dari sekresi vagina secara rutin.
 Direct Imunfluorescence assay
Cara ini lebih sensitive daripada apusan basah, tapi kurang sensitive dibanding kultur. Cara ini dilakukan untuk mendiagnosa secara cepat tapi memerlukan ahli yang terlatih dan mikroskop fluoresesensi.
 Polimerase Chain Reaction. Cara ini telah dibuktikan merupakan cara yang cepat mendeteksi Trichomonas vaginalis.
PENATALAKSANAAN
Pengobatan dapat topical maupun sistemik :
1. Topikal
a. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrokarbon peroksida 1-2% dan larutan asam laktat.
b. Bahan berupa suposituria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal.
c. Gel atau krim yang bersifat trikomoniasidal
2. Sistemik
Golongan obat Nitromidazol seperti :
1. Metronidazol : dosis tunggal 2gr atau 3 x 500mg/hari selama 7 hari.
2. Nimorazol : dosis tunggal 2gr
3. Tinidazol : dosis tunggal 2gr
4. Omidazol : dosis tunggal 1.5 gr
c. Anjuran pada waktu pengobatan
1. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah terjadinya infeksi pingpong.
2. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum dinyatakan sembuh.
3. Hindari barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.
Rejimen yang dianjurkan
Metronidazol 2 g dosis tunggal, peroral.
a. Pengobatan ini sangat efektif dengan angka keberhasilan antara 82- 90%
b. Pengobatan juga diberikan kepada pasangan seksualnya dengan rejimen yang sama
c. Jika pasangan seksual-nya diobati bersama-sama maka angka kesembuhan melebihi 95%. Angka reinfeksi 16-25% terjadi jika pasangan seksualnya tidak diobati
d. Penderita dan pasangan seksualnya dianjurkan untuk tidak berhubungan seksual hingga dinyatakan sembuh
Rejimen alternatif
a. Metronidazol 500 mg, 2 kali sehari selama 7 hari. Rejimen ini dianjurkan untuk penderita yang tidak sembuh dengan pengobatan dosis tunggal
b. Metronidazol 2 g dosis tunggal selama 3-5 hari. Di- anjurkan untuk penderita yang gagal dengan pengobatan ulangan
c. Rejimen metronidazol multidosis selama 7 hari sangat efektif untuk penderita pria
d. Metronidazol 250 mg, 3 kali sehari selama 7 hari
e. Metronidazol 1 g, 2 kali sehari selama 1-2 hari
f. Fenobarbital dan kortikosteroid akan menurunkan kadar metronidazol plasma dan akan menurunkan aktifitas metronidazol terhadap Trichomonas vaginalis, sedangkan cimetidine akan menaikan kadar metronidazol plasma
g. Kasus yang resisten secara klinis dapat diobati dengan dosis 2-4 g metronidazol selama 3-14 hari atau metronidazol 2 g peroral setiap hari disertai 500 mg yang diberikan intravagina
KOMPLIKASI
• Infeksi pelvis
• Pada kehamilan :
o lahir premature
o bayi berat lahir rendah
o selulitis posthysterectomy (10)
PROGNOSIS
Metronidazol menunjukkan angka kesembuhan 95 % .
Angka kesembuhan meningkat bila kontak seksual memakai pengaman.(10)

Pencegahan

Karena trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual, cara terbaik menghindarinya adalah tidak melakukan hubungan seksual. Beberapa cara untuk mengurangi tertularnya penyakit ini antara lain:

* Pemakaian kondom dapat mengurangi resiko tertularnya penyakit ini.
* Tidak pinjam meminjam alat-alat pribadi seperti handuk karena parasit ini dapat hidup di luar tubuh manusia selama 45 menit.
* Bersihkan diri sendiri segera setelah berenang di tempat pemandian umum.

Leave a comment »

Tes Pap Smear


Pap smear merupakan pemeriksaan sitologik dari bahan yang diambil dari dinding vagina atau dari serviks (endoserviks dan ektoserviks) untuk kepentingan diagnosis dini karsinoma serviks uteri -kanker mulut rahim- dan karsinoma korpus uteri.
Alat-alat dan bahan pap smear:
1. Spekulum cocor bebek
2. Spatula ayre
3. Cyto brush
4. Object glass
5. Handscoen
6. Kapas
7. Kasa
Teknik / Cara melakukan pap smear:
1. pasien dibaringkan dalam posisi litotomi
2. cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir
3. keringkan tangan dengan handuk bersih
4. gunakan sarung tangan dengan benar
5. bersihkan vulva dan perineum dengan kasa kering
6. ambil spekulum cocor bebek (sesuaikan dengan ukuran yang dibutuhkan) dengan tangan kanan dan masukkan ke dalam introitus vagina dengan posisi lebar spekulum pada sumbu vertikal (anteroposterior)
7. setelah ujung spekulum melewati introitus, dorong spekulum sampai pangkalnya, kemusian gagang spekulum diputar (90 derajat) ke arah bawah
8. introitus vagina diregangkan dengan cara membuka spekulum sedemikian rupa sehingga lumen vagina, portio dan forniks terlihat jelas, kemudian spekulum dikunci pada posisi tersebut
9. ambil spatula ayre, kemudian ujung yang pendek dimasukkan ke dalam ostium uteri eksterna dan dilakukan usapan searah jarum jam (diputar 360 derajat)
10. bahan hasil usapan tadi dihapuskan pada object glass yang telah disediakan
11. ambil cyto brush, kemudian dimasukkan ke dalam kanalis servikalis dan dilakukan usapan berputar searah jarum jam (360 derajat)
12. bahan hasil usapan tadi juga dihapuskan pada object glass sebelumnya pada tempat yang berbeda dengan cara diputar kembali berlawanan arah dengan jarum jam (sebaliknya)
13. lepaskan spekulum cocor bebek yang terpasang pada introitus vagina
14. buka sarung tangan, letakkan dalam larutan desinfektan
15. cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir, kemudian keringkan dengan handuk bersih
16. beri label pada sampel, kirim ke laboratorium.
INTERPRETASI HASIL TES PAP SMEAR:

– NEGATIF = artinya tidak ditemukan sel-sel yang berbahaya ..!

– DISPLASIA = ditemukan sel yang menunjukkan perubahan sifat

yang dapat mengarah ke KEGANASAN ,untuk

itu perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan BIOPSI.

– POSITIF = ditemukan sel GANAS

Harus dilakukan BIOPSI untuk memastikan Diag-

nosa.

Leave a comment »

SISTEM REPRODUKSI


PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Sistem reproduksi tidak penting bagi kelangsungan hidup individu, tetapi penting bagi kelangsungan hidup species dan menimbulkan dampak besar bagi kehidupan manusia. Walaupunsistem reproduksi tidak memberikan kontribusi pada homeostasis dan tidak penting bagi kelangsungan hidup seseorang, system ini tetap berperan penting dalam kehidupan seseorang, sebagai contoh, cara bagaimana orang berhubungan sebagai makhluk seksual  sangat berperan dalam perilaku psikososial dan menimbulkan pengaruh penting pada bagaimana orang memandang diri mereka berinteraksi dengan orang lain. Fungsi reproduksi juga memiliki pengaruh mendalam pada masyarakat. Organisasi universal masyarakat kedalam satuan-satuan keluarga menciptakan suatu lingkungan stabil yang kondusif untuk kelangsungan hidup spesies. Dipihak lain, ledakan populasi dan terkurasnya sumber daya alam yang diakibatkanny menyebabkan diupayakannya cara-cara untuk membatasi reproduksi.

Kemampuan reproduksi bergantung pada hubungan rumit antara hipotalamus, hipofisis anterior, organ reproduksi, dan sel sasaran hormone seks. Selain proses-proses biologis dasar tersebut, perilaku sikap seksual sangat dipengaruhi oleh factor emosi dan moral sosiokultural masyarakat tempat individu berada. Kita kan memusatkan perhatian pada fungsi reproduksi dan seksual dasar yang berada dibawah pengaruh control saraf dan hormone serta tidak mengkaji aspek-aspek psikologis dan social perilaku seksual.

  1. B. Rumusan Masalah
  2. Anatomi system reproduksi
  3. Fisiologi system reproduksi
  4. Histology system reproduksi
  5. Fase-fase hubungan seksual
  6. Usia menarche normal
  7. Masa subur wanita
  8. Proses pembentukan janin
  9. Siklus haid
  1. C. Tujuan
    1. mempersiapkan seorang mahasiswa kedoteran menghadapi era globalisasi
    2. memberi pengajaran tentang bagaimana cara mengambil keputusan
    3. mempersiapkan kemampuan dan mental seorang mahasiswa kedokteran
    4. mempersiapkan mahasiswa kedokteran menghadapi masalah profesional
    5. memperkenalkan jenis-jenis penyakit pada mahasiswa kedokteran
    6. mempermudah mahasiswa kedokteran untuk mempelajari ilmu-ilmu dalam bidang kedokteran

  1. D. Manfaat

Manfaat dari penulisan ini adalah :

  1. Mahasiswa kedokteran mampu mengetahui Anatomi, Fisiologi, serta Histologi system Reproduksi pad manusia.
  2. Mahasiswa kedokteran mampu mengetahui hubungan antara sistem Endokrin dengan sistem Reproduksi.
  3. Mahasiswa kedokteran mampu mengetahui mekanisme haid dan hamil.
  4. Mahasiswa kedokteran mampu mengetahui macam-macam tets kehamilan beserta cara penggunaannya.
  5. Mahasiswa kedokteran mampu mengetahui hubungan antara kesehatan dengan gaya hidup seksual seseorang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Anatomi

Organ Reproduksi Maskulina

  • Organa geneta. interna :
  1. Testis
  2. Epididymis
  3. Ductus defferens
  4. Ductus ejaculatorius
  5. Vesicula seminalis
  6. Glandula prostat
  7. Glandula bulbourethralis
  • Organa genet. externa :
  1. penis
  2. Scrotum

Organ Reproduksi Feminina

  • Organa geneta. interna :
  1. Ovarium
  2. Tuba Uterina
  3. Vagina
  4. Genitalia eksterna
  5. Kelenjar mama
  • Organa genet. externa :

Vulva :  Mons Pubis, clitoris, labium majus. Labium minus

Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu :

Perimetrium

Miometrium

Endometrium

  1. B. Histologi

Struktur Mikroskopis Genetalia Maskulina :

Gbr. Testis

Gbr. Korteks ovarium ;

Fol. premordial

Struktur Mikroskopis Genetalia Feminina :

Gbr. Ovarium                                                                    Gbr. Korpppus Luteum

  1. C. Fisiologi

v Organ Reproduksi Pria

Tabel. Fungsi Komponen Sistem Reproduksi Pria

Komponen Sistem Reproduksi Pria Fungsi
  • Testis
  • Memghasilkan sperma
  • Mengeluarkan testosteron
  • Epididimis dan Duktus Deferens
  • Tempat keluar  sperma dari testis
  • Tempat pematangan motilitas dan fertilitas sperma
  • Memekatkan dan menyimpan sperma
  • Vesikula Seminalis
  • Penghasil fruktosa untuk makanan sperma
  • Penghasil prostaglandin
  • Kelenjar Prostat
  • Memicu pembekuan semen untuk menjaga sperma tetap berada di dalam vagina saat penis dikeluarkan
  • Kelenjar Bulbouretra
  • Mengeluarkan mucus untuk pelumas

. (Sherwood,L, 2001)

Pengaturan dan peranan hormone pada system reproduksi pria:

  1. FSH

-          Memacu pertumbuhan tubulus seminiferus testis

-          Memacu spermatogenesis

  1. LH

-          Memacu perkembangan sel-sel interstitial leydig

-          Memacu sel interstitial leydig untuk menghasilakan testosterone

-          Memacu perkembangan saluran reproduksi pria

-          Bersama FSH memacu spermatogenesis

  1. Testosteron

-          Dihasilkan oleh sel interstitial leydig

-          Mamacu sifat kelamin sekunder pada pria

-          Memacu perkembangan saluran reproduksi

v Organ Reproduksi Wanita

Pengaturan dan peranan hormone pada system reproduksi wanita :

  1. Hormon yang bersal dari hipofise
    1. FSH

-          Memacu pembentukan folikel

-          Memacu perkembangan folikel dari folikel primaries menjadi folikel de graf

-          Memacu pengeluaran hormone estrogen dari folikel ovarii

-          Bersama LH memacu terjadinya Ovulasi

  1. LH

-          Bersama FSH memacu ovulasi

-          Memacu terjadinya korpus luteum

-          Bersama LTH memacu produksi hormone progesterone oleh corpus luteum

  1. LTH

-          Memacu produksi hormone progesterone oleh korpus luteum

  1. Hormon-hormon ovarium
  2. Estrogen

-          Dihasilkan oleh folkiel ovarium

-          Pengeluaran dipacu FSH

-          Memberikan sifat kelamin sekunder pada wanita

-          Ikut memacu terjadinya ovulasi

-          Berperan aktif dalam fase regenerasi dan fase proliferasi endometrium

-          Menghambat hipofise dalam memproduksi FSH

  1. Progesterone

-          Dikeuarkan korpus luteum atas pacuan LH dan LTH

-          Berperan dalam fase sekresi endometrium

-          Berakhirnya produksi progesterone berarti terjadi fase menstruasi

-          Terhadap kehamilan, mempertahankan kehamilan

  1. Hormon placenta
  2. HCG

-          Menyebabkan korpus luteum tumbuh lebih cepat dan lebih besar

-          Menghambat produksi FSH dan LH sehingga ovulasitidak terjadi

-          HCG menggantikan fungsi progesterone sesudah pembentukan placenta selesai

Fisiologi Haid

Keluarnya darah dari alat kandungan akibat peluruhan dinding endometrium yang tidak terjadi kehamilan secara teratur setiap bulan.

Siklus menstruasi terdiri dari 4 fase yaitu :

  • Fase Menstruasi yaitu peristiwa luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Dapat diakibatkan juga karena berhentinya sekresi hormone estrogen dan progresteron sehingga kandungan hormon dalam darah menjadi tidaka ada.
  • Fase Proliferasi/fase Folikuler ditandai dengan menurunnya hormon progesteron sehingga memacu kelenjar hipofisis untuk mensekresikan FSH dan merangsang folikel dalam ovarium, serta dapat membuat hormone estrogen diproduksi kembali. Sel folikel berkembang menjadi folikel de Graaf yang masak dan menghasilkan hormone estrogern yang merangsangnya keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen dapat menghambat sekersei FSH tetapi dapat memperbaiki dinding endometrium yang robek.
  • Fase Ovulasi/fase Luteal ditandai dengan sekresi LH yang memacu matangnya sel ovum pada hari ke-14 sesudah mentruasi 1. Sel ovum yang matang akan meninggalkan folikel dan folikel aka mengkerut dan berubah menjadi corpus luteum. Corpus luteum berfungsi untuk menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi untuk mempertebal dinding endometrium yang kaya akan pembuluh darah.
  • Fase pasca ovulasi/fase Sekresi ditandai dengan Corpus luteum yang mengecil dan menghilang dan berubah menjadi Corpus albicans yang berfungsi untuk menghambat sekresi hormone estrogen dan progesteron sehingga hipofisis aktif mensekresikan FSH dan LH. Dengan terhentinya sekresi progesteron maka penebalan dinding endometrium akan terhenti sehingga menyebabkan endometrium mengering dan robek. Terjadilah fase pendarahan/menstruasi.

v Gametogenesis

  1. Spermatogenesis

Merupakan peristiwa pembentukan sel gamet, baik gamet jantan/sel spermatozoa (spermatogenesis) dan juga gamet betina/sel ovum.

Sel spermatogonium (2n)

Mitosis

Spermatosit primer

Meiosis I

Spermatosit sekunder                                          Spermatosit sekunder

MeiosisII

Spermatid   Spermatid                                      Spermatid       Spermatid

Sperma (n) Sperma (n)                                     Sperma (n)      Sperma (n)

  1. Oogenesis

Premordial Germ Cell

(oogonia) ————– mitosis

Oosit I ——————meiosis I

B. Polar I        Oosit II ———meiosis II

degenerasi

Tdk fertilisasi           Fertilisasi

Oosit II                 B. Polar II     Ovum

Degenerasi          degenerasi

BAB III

PEMBAHASAN

  1. A. Skenario

Ahmad, umur 29 tahun, dan Fatimah, umur 27 tahun, adalah pasangan suami istri yang menikah secara sah dan bahagia. Keduanya adalah atlet berprestasi. Sejak kecil mereka aktif dalam kegiatan olahraga atletik hingga sekarang.

Suatu hari, pasangan muda tersebut datang ke klinik “RAHMI” untuk bertemu dengan dokter spesialis obsgin. Pasangan suami istri tersebut ingin berkonsultasi tentang masalah yang membuat mereka sangat khawatir dan cemas, yaitu setelah 2 tahun menikah, Fatimah tidak kunjung hamil. Padahal mereka mempunyai kehidupan seksual normal dan selalu berdoa agar diberi momongan. Fatimah bercerita bahwa dia mengalami haid pertama kali saat umur 15 tahun. Sedangkan suaminya, Ahmad, mengalami “mimpi basah” pertama kali saat umur 14 tahun. Kemudian Fatimah bertanya kepada dokter…..”Dok, kenapa saya tidak kunjung hamil? Apakah menarche yang terlalu lambat atau karena ada masalah lain?…..”

  1. B. Analisis Skenario

Mimpi Basah

Mimpi basah adalah orgasme atau ejakulasi sperma di waktu tidur dan hanya dialami oleh laki-laki. Mimpi basah dialami oleh remaja laki-laki, sebagai tanda bahwa ia telah  memasuki masa pubertas (akhil baligh) . Hal ini bisa berupa mimpi yang erotis atau yang lainnya, tergantung pada yang mengalami mimpi itu sendiri, dan ejakulasi itu sendiri bisa saja terjadi tanpa ereksi. Mimpi basah tidak hanya terjadi  satu kali saja, namun dapat berkali-kali. Semakin bertambahnya umur maka mimpi basah  ini semakin jarang dialami, seorang laki-laki yang belum menikah lebih sering mengalami mimpi basah, karena mereka belum dapat melampiaskan  hasratnya. Mimpi basah tergantung dari respons fisik dari orang yang mengalami mimpi tadi, dan hal ini adalah suatu mekanisme ilmiah yang alami, di mana vesikula seminalis telah penuh dengan sperma yang dihasilkan oleh testis.

Masa Subur Wanita

Bila siklus haid teratur (28 hari) :

  • Hari pertama dalam siklus haid dihitung sebagai hari ke-1
  • Masa subur adalah hari ke-12 hingga hari ke- 16 dalam siklus haid

Hari pertama masa subur = Jumlah hari terpendek – 18

Hari terakhir masa subur = Jumlah hari terpanjang – 11

Pada kondisi normal, sehat dan siklus haid normal, memindai masa subur dengan menghitung siklus haid cukup akurat (90 persen lebih). Yang harus diketahui, faktor kesuburan tak hanya ditentukan oleh faktor ovarium (sel telur), tetapi juga faktor tuba (saluran telur), rahim, dan kesehatan bagian anatomis lainnya.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. KESIMPULAN
  • Organ Reproduksi Wanita terdiri dari, interna : Vagina, Cervix uteri, Uterus, Tuba uteria, Ovarium dan fimbrie. Sedangkan, externa : Clitoris, Labium minus, Labium mayus, Perineum, Hymenmons pubis
  • Organ Reproduksi Pria terdiri dari, interna : Testis, Epididymis, Ductus defferens, Ductus ejaculatorius, Vesicula seminalis, Glandula prostat, dan Glandula bulbourethralis. Sedangkan, externa : Penis dan Scrotum.
  • Ereksi  membutuhkan kerja sama banyak sistem di dalam tubuh
  • Mimpi basah adalah orgasme atau ejakulasi sperma di waktu tidur dan hanya dialami oleh laki-laki
  • Siklus menstruasi terbagi dalam tiga fase, yaitu fase menstruasi, fase folikular, dan fase luteal.
  • Cepat lambatnya menarche tergantung pada faktor gizi , genetik dan psikologis
  • Siklus respon seksual terdiri dari empat tahap, yaitu fase excitement (eksitasi), fase plateu, fase orgasme, dan fase resolution.

  1. B. SARAN

Pada dasarnya tidak dianjurkan berhubungan pada saat haid, oleh karena disamping keadaan wanita dalam terganggu secara psikis, keadaan fisiknya mengalami suatau pendarahan yang disebabkan oleh karena pengelupasan dari lapisan endometrium rahim

DAFTAR PUSTAKA

  • Guyton,Arthur C.1994.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Edisi 7.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
  • Murray, R.K. 1999. Biokimia harper. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  • Sherwood,L, 2001, Fisiologi Manusia : Dari Sel Ke Sistem,Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
  • Scanlon, Valerie C.2007. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. Ed 3.Jakarta: Buku Kedokteran ECG.
  • AMK, Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
  • http://www.klikdokter.com/article/detail/289 .download  Selasa , 23 Desember 2008 at 08.42 pm
  • http://www.helvetia.ac.id/library didownload Selasa, 23 Desember  2008 at 09.31 am
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_seksual didownload Selasa, 23 Desember 2008 at 09.57 am
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Mimpi_basah didownload Selasa, 23 Desember 2008 at 10.03 am
  • Kuliah besar, Selasa, 23 Desember 2008. Sistem Reproduksi. Dr. Moch.Arif Tq. UMS. at 08.40 am

Comments (3) »

Hello world!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.